Na Neol Neukkyeo
Part 4 : “neoneun geunyeo cheoreom” (kau mirip
dengannya)”
Waktu berjalan
dengan cepatnya dan terasa chae jin sudah bersekolah selama dua minggu,
biasanya chae jin berangkat dan pulang sekolah bersama eun gi satu-astunya
sahabat yang ia miliki, eun gi memang
gadis yang baik dan lucu.
Namun tidak untuk
hari ini, chae jin pulang sendirian. Karna eun gi sudah ada janji dengan shi
soo, lelaki yang eun gi sukai selama tiga tahun terakhir, karna itu sebagai
sahabat yang baik chae jin memakluminya, ia akan senang jika sahabatnya bisa
senang dengan kencan perdananya itu.
Jalanan terlihat
sangat sepi, tak seperti biasanya,karna mungkin hanya chae jinlah yang
terlambat pulang, sehingga tak mendapati siswa-siswi seusianya berjalan ramai
di samping jalan raya. Di pertengahan jalan chae jin mendengar suara yang
sedang merintih kesakitan. Tak sesekali ia menolehkan pandangan ke kanan dan
kekiri. Dan akhirnya ia menemukan sumber suara., yang berasal dari sebuah taman
di pinggir jalan.
“wae geuraeyo?(apa yang
terjadi) “ tanya chae jin pada seorang
laki-laki dengan pergelangan tangan yang penuh darah.
Lelaki itu diam dan
menongakkan kepalanya ke arah seorang yang berdiri di hadapannya. Tiba-tiba
saja chae jin langsung berlari meninggalkan lelaki itu.
“siaal, aku kira
anak baru itu itu akan membantuku” ucap lelaki itu dengan ketus yang tidak lain
adalah kang ryeo jun. Tak sesekali ia memajukan mulutnya untuk meniup lukanya.
Tak lama kemudian
chae jin kembali dengan nafas terengah-engah, tanpa ragu ia langsung menarik
tangan ryeo jun, lalu membersihkan lukanya kemudin memberikan obat dan
memerbannya sendiri. Chae jin tak menghiraukan apapun, yang terpenting adalah
ia bisa menolong orang yang sedang kesakitan.
Melihat itu, ryeo
jun hanya duduk membisu, mulutnya kaku untuk mengeluarkan kata-kata yang tidak
sopan pada para gadis yang seenaknya saja menyentuhnya. Ia teringat sosok gadi
kecil yaang menolongnya, sama seperti yang dilakukan chae jin saat ini padanya.
Bayangan min na tiba-tiba saja muncul di benaknya, dan dengan kasar ia menarik
tangannya yang hampir selesai di balut perban oleh chae jin.
“ada apa?” tanya
chae jin sedikit kaget.
“aku yang
seharusnya bertanya, kau sedang apa?” jawab ryeo jun lantang.
“aku sedang
menolongmu” timpal chae jin
“apa aku pernah
meminta bantuannu?” bentak ryeo jun
kasar membuat chae jin terdiam seketika.
Chae jin
mengeretakkan giginya dengan kuat, bibirnya terlihat bergetar, tak sesekali ia
mengedip-ngedipkan matanya menahan tangis yang rasanya ingin keluar. *manusia
macam apa kau ini, tak bisakah kau berterimakasih* batin chae jin
“joesonghabnida(aku
mohon maaf)” ujar chae jin hampir tak terdengar.
Tetap dengan
pandangan dingin, ryeo jun meninggalkan chae jin sendiri. Chae jin menatap
punggung ryeo jun yang semakin lama semakin jauh. Tak terasa setetes air mata
jatuh di pipinya, mulutnya tetap bergetar, ia bingung harus melakukan apa dalam
kondisi seperti itu. Kakinya mulai melemas dan akhirnya ia duduk terkapar
di atas rerumputan hijau yang penuh
dengan kapas berwarna merah karna darah.*Kenapa semua orang tak berlaku adil
padaku*
Flash back.
Busan, desember
2004
Gadis kecil dengan
pita merah sedang bermain dengan teman barunya di gundukan salju putih yang
indah, mereka berdua bekerja sama membuat patung salju.
“min na-ya, aku
akan membuatkan patung salju yang mirip denganmu” ujuar lelaki kecil itu dengan
penuh semangat.
Min na hanya
mengangguk pelan dan tersenyum simpul. Betapa bahagiaya ia dengan kehadiraan
seorang teman yang ia dambakan selama ini, seorang teman yang dengan sendirinya
datang mengunjungi rumahnya di malam hari. Seorang yang ia kenal dengan nama
kang ryeo jun.
Tiba-tiba saja
segerombolan anak-anak seusia mereka datang, dan melemparkan bola-bola salju ke
arah min na.
“YAAAA,. Apa yang
kalian lakukan” teriak ryeo jun seraya melindungi min na dari serangan
anak-anak nakal itu.
“dasar gadis
bisu,.” Teriak mereka sambil tetap melemparkan bola batu ke arah min na.
Ryeo jun memeluk
min na kuat, ia menghalang bola-bola
salju itu dengan punggungnya. Ingin rasanya min na berteriak, tapi semua
itu tidak mungkin.
Tak lama kemudian
anak anak nakal itu pergi meninggalkan mereka berdua dengan gelak tawa mereka.
Ryeo jun melepas
pelukannya “neo gwaenchana?(apa kamu baik-baik saja?) tanya ryeo jun kepada min
na.
Min na hanya bisa
menganggukan kepalanya pelan, rasanya ia ingin menangis melihat ryeo jun yang
selalu menderita arna membelanya.
Flash back stop.
Chae jin berusaha
bangkit dari duduknya, dalam keadaan seperti ini ia akan selalu mengingat ryeo
jun pahlawannya, agar bisa bangkit dan menjadi lebih kuat.menurutnya nama ryeo
jun hanya dimilki oleh orang-orang yang baik seperti sahabatnya dulu, tapi
ternyata ia salah ryeo jun tak selalu baik,ada ryeo jun yang lain yang sangat
sombong dan angkuh, bahkan tidak bisa berterimakasih.
SKIP,.,
“omoo, ryeo jun-a
apa yang terjadi.” Teriak nyonya kang dari ruang tengah melihat ryeo jun yang
sedang menaiki tangga kamarnya.
“aku tidak apa-apa
eomma” jawabnya
“tidak apa-apa
bagaimana, lihat tanganmu dengan perban seperti itu “
“Aku hanya
terserpet motor “
“terserepet kau
bilang?? Cepat masuk kamar, eomma akan mengobatimu” ucap nyonya kang sembari
berlari ke ruang P3K
SKIP,.
Ryeo jun masuk ke
dalam kamarnya, ia berjalan ke arah lukisan gadis kecil berpita merah dan
menatapnya dalam.
“min na-ya, kau
dimana? Aku merindukanmu” tangkasnya
Sejenak ryeo jun
berfikir, mengingat-ingat kejadian tadi sore. Perilaku chae jin si anak baru
itu sama persis dengan min na membuatnya sontak berlaku kasar. Menurutnya semua
wanita sama saja, mendekati lelaki kaya hanya untuk harta, di dalam benaknya
hanya min na lah yang berbeda, min na lah yang menerimanya tanpa mengetahui
seluk beluk keluarganya. Min nalah yang menyembunyikannya dari maut yang hampir
menjemputnya.
Flash back
Busan, desember
2004
Pagi-pagi sekali
ryeo jun tersadar dari pingsannya, ia membayangkan kejadian semalam yang ia
alamai, begitu malang nasibnya berlari lari sendiri di tengah hutan yang gelap
tanpa jaket tebal menelusuri salju yang lebat.
Ryeo jun pun
tersadar, ia mencari-cari dimana gadis kecil itu. Tiba-tiba saja suara pintu
terbuka dan terdengar tapakan kaki mungil menuju ke arahnya.
“geogi,., aku
sekarang ada dimana?”tanyanya pada gadis kecil yang sudah di depannya.
Gadis itu bingung
harus berbuat apa, ia pun berlari ke arah meja belajar kecil dan kembali
membawa buku dan pensil kecil yang hampir habis.
Ia kemudian
menuliskan kalimat yang ingin ia katakan. “kamu sekarang di rumahku” tulisnya.
“aah, terimakasih
telah menolongku” jawab ryeo jun sambil tersenyum
Tak lama setelah
percakapan mereka berlangsung terdengar suara ketokan pintu yang keras.
“apa ada orang di
dalam, bukakan pintunnya.” Teriak suara yang begitu menyeramkan.
Ryeo jun sontak
terkaget, ia sangat tau bahwa itu suara dua penjahat yang menculiknya, ia
kemudian memberitahu min na apa yang sedang terjadi padanya, min na mengangguk
pelan tanda mengerti tentang situasi yang ryeo jun alami saat ini.
Min na kemudian
berlari ke arah pintu. Ryeo jun berada di bailk tirai dengan sedikit mengintip dari celah kecil untuk
meihat apa yang terjadi.
Min na membuka
pintu rumah dan didapatinya dua laki-laki bertubuh besar, satunya berambbut
gondrong dan satunya lagi berkepala botak.
“hey anak kecil apa
kau melihat laki-laki seusiamu datang ke sini” tanya si pria gondrong
Min na hanya menggelengkan
kepala, ia berusaha terilhat tenaang di hadapan dua pria itu,
“atu mungkin kau
pernah melihatnya?” tanyanya lagi,
Min na tetap
menggeleng.
“dasar bodoh,
katakan sesuatu” bentak si pria botak.
Min na tetap saja
menggeleng dan “PLAAAK” terdengar suara tamparan melayang di pipi mungil min
na. Min na memegang pipinya dan tetap saja menggeleng
“siaal, sepertinya
dia bisu” ucap si gondrong.
“ayoo kita pergi,
sepertinya bocah tengik itu sudah pergi dari sini” perintahnya.
Min na menutup
pintu kembali dan terdengar suara ryeo jun panik
“apa kau baik-baik
saja,.?” Maafkan aku ,.” Ucapnya.
Baru saja ryeo jun
mengucapka satu klimat terdengar suara gedoran pintu untuk ke dua kalinya.
Min na dan ryeo jun
berhadapan satu sama lain, kemudian mereka berdua serentak menolehkan pandangan
ke arah pintu.,
Tidak ada komentar:
Posting Komentar