Sabtu, 16 Agustus 2014

LOVE DAY

Tittle   : love day
Author : Nisa Amila Rodhiya
Cast    : Do Kyung Soo
             Lee hye sin
Genre : sad romance
Request by : ratih dewi (geyra)

HAPPY AND SAD READING ALL ^^

“sehelai daun sakura yang jatuh tepat diatas telapak tanganku menyadarkanku bahwa aku berada pada musim yang berbeda.
Kucoba menutup mata , namun bayangmu selalu hadir di benakku bahkan telah menggerogoti seluuh sarafku.
Kurasakan dingin yang sangat menerpa kulit wajahku tepat saat ku tengadahkan kepalaku pelan. Salju pertamapun turun, tak ku sangka semua telah berlalu , namun tetap saja di hatiku tak ada yang berubah.
Cintaku padamu bagai bunga edelwise yang tak pernah mati, bunga yang melambangkan keabadian, yeaah,. Keabadian cintaku yang telah kau bawa pergi.”

Busan, 8 september  2010
Hujan turun dengan derasnya, membasahi setiap payung yang menghadang ,kuperhatikan jalanan yang basah sambil sesekali menggosok-gosokan tanganku, cuaca sungguh tak bersahabat bagi setiap orang yang ingin pergi berlibur , tapi tidak denganku, setiap hari teeasa biasa, tak ada yang special. Aku selalu sendiri.
Namaku park hye sin, nama yang bagus bukan? Yeaah,. Nama itu di berikan oleh seorang ibu panti asuhan yang selama ini mengasuhku sampai aku berumur 11 tahun, 5 tahun berikutnya aku tinggal bersama ahjumma pemilik warung ddobokki (kue beras) di pinggir jalan, walaupun hidupnya begitu berkecukupan, namun ia tetap mau membawaku bersamanya, mungkin dia juga tak tahan hidup sendirian.
.
.
.
“hye sin-a” panggil ahjumma dari dapur.
“ne eomma” aku pun memanggilnya dengan sebutan ibu satu bulan setelah ia mengasuhku, aku ingat lidahku sangat kelu untuk memanggilnya seperti itu, namun sekarang semua terasa biasa saja.
“ini, makan yang banyak ya” ucapnya sambil menyodorkan rantangan nasi yang biasanya aku bawa ke sekolah untuk sarapan. Semua itu untuk mengirit uang belanja. Masakan ahjumma juga tidak kalah lezat dengan masakan di kantin sekolah.
.
.
.
Aku mengayuh sepeda  pinkku yang warnanya sudah mulai memudar, aku tak pernah malu akan hal itu, walau tak ada satupun orang yang mau berteman denganku di sekolah.wajar saja, aku sekolah di tempat yang di sebut bergengsi di kota ini, seluruh isi sekolah adalah para pewaris saham, lalu bagaimana denganku? Aku hanya mengandalkan otakku, program beasisiwalah yang membawaku masuk ke lingkungan itu.
Aku menghentikan ayuhan sepedaku melihat kerumunan orang banyak di pinggir jalan. Banyak yang menggunakan pakaian berwarna hitam, dari situ bisa ditafsirkan bahwa sedang ada perkubungan.

Aku mengarahkan sepedaku mendekat, karna sungguh terdengar banyak tangis yang membuatku menjadi penasaran.
“jogi ahjummonie, siapakah yang meninggal dunia?” tanyaku pada seorang ahjumma yang sedari tadi menyeka air matanya pelan,
“aigoo,. Sungguh malang anak itu” balasnya dengan mata yang tertuju pada seorang lelaki yang sedang menagis terisak di depan foto seorang paman dan bibi yang masih terlihat muda.
“ayah dan ibunya meninggalkannya terlalu cepat, sekarang dia hidup sebatang kara”
Entah mengapa aku juga merasa sedih ,aku sangat tau apa yang dia rasakan, yaah,. Dia pasti merasa sendiri sekarang sama sepertiku. Aku tak mengalihkan pandanganku sekalipun, aku melihatnya sesekali memukul dadanya, terlihat sungguh sangat sesak, air matanyapun tak henti bercucuran.
“ayah dan ibunya sangat ramah, semuaorang di sini menyegani keluarga mereka, mereka adalah orang kaya yang sangat rajin membantu” lanjut ahjumma itu sekedar meluapkan apa yang ia rasakan,
Aku menganggukkan kepala pelan, lalu berbalik meninggalkan kerumunan.
.
.
.
“yaa,. Lusuh, cepat minggir, aku tak mau makan di sampingmu” ujar seorang gadis bermbut pirang sambil seseklai mendorongku.
“lusuh” itulah nama panggilanku, tak banyak yang mengetahui nama asliku, karna aku sudah terbiasa dengan panggilan “lusuh” itu. Tak seorangpun yang menemaniku di sekolah, mereka hanya datang padaku saat ada kebutuhan yang mendesak seperti tugas dan lainnya, namun itupun dengan paksaan, tak ada kelembutan sedikitpun. Aku hanya bisa tersenyum sambil mengatakan “gwaenchana” pada diriku sendiri.

3 hari kemudian.

Hari ini lumayan cerah, ku ayuh sepedaku perlahan untuk menikmati sedikit udara segar di pagi hari. Tiba-tiba saja mataku tertuju pada seorang lelaki yang menggunakan seragam sekolah yang sama denganku.lelaki itu hanya duduk terdiam dengan pandangan kosong di bawah pohon.
Kuperhatikan lagi,seperti sudah melihatnya, tapi akumasih memikirkan dimana aku bertemu dengannya.
“aah, benar dia lelaki di tempat berkubung” ujarku pelan. Aku pun mulai mendekatinya.
“annyeong,.” Sapaku dengan suara rendah.
Ia langsung mengarahkan pandangannya padaku, namun tak membalas sapaanku.
“apa yang sedang kau lakukan di sini? Ayo pergi sekolah” ucapku memberanikan diri.
Ia menatapku kembali sembari tersenyum.
“gwaenchanha,,. Kau duluan saja” balasnya pelan
“ne,. ?” suaraku, sedikit memastikan apa yang ia ucapkan
“aku murid pindahan, tak apa jika aku terlambat”  balasnya.
“aaah,. Dia murid baru” batinku, tapi entah mengapa aku tak enak meninggalkannya sendiri, ia terlihat  merasa sangat sepi, bisa ku baca dari matanya, bahwa ia tak kuat dengan apa yang ia alami.
Aku membuka tasku pelan, ku ambil sebuah gelang rajut yang selalu ku taruh di tasku.
“ini,., ini untukmu” ucapku sambil menyodorkan gelang itu.
“igo,. Mohaeyo? “ tanyanya pelan
“gelang ini bisa menemanimu saat kau merasa sepi, saat kau merasa tak ada orang lain di sisimu.” Aku pun berbalik lalu mengayuh sepedaku kembali.
“hah,. Biarlah” ucapku pada diriku sendiri, gelang itu memang sangat berarti untukku, karna gelang itu pemberian dari ahjumma dip anti asuhan saat aku meninggalkannya. Kata-kata yang ku ucapkan pada lelaki tadi sama persisi dengan kata yang di ucapkan oleh ahjumma padaku. Yaah,. Gelang penghilang kesepian, kurasa dia lebih membutuhkannya.
.
.
.
“silahkan perkenalkan dirimu” ucap bu park, wali kelas kami ke pada seorang lelaki yang sudah taka sing lagi di mataku. Yaah,. Lelaki di bawah pohon tadi.
“annyeonghaseyo, do kyung soo irago.bangapda” ungkapnya lalu menundukkan kepala di depan kelas sebagai tanda penghormatan.
Namanya “DO KYUNG SOO” dan sekarang ia duduk di sebelahku, mungkin ia belum menyadari keberadaanku, tapi ya sudahlah,. Mungkin dia juga akan menjauhiku seperti murid yang lainnya.
“ya,., yaa,.,” suaranya setengah berteriak.
Aku tak menolehkan kepalaku sedikitpun karna mungkin panggilan itu bukan untukku.
“yaa,. Yaa,. Gelang rajut” panggilnya berulang kali
“gelang rajut?, mungkinkah itu aku” batinku mulai menyadari, dan akhirnya aku menoleh ke arahnya.
“ternyata benar” ucapp kyung soo lalu tersenyum.
Kyungsoo menatap tajam ke arahku, entah apa yang sedang ia perhatikan.
“lee hye shin??” ucapnya sedikit bertanya.
“eottokhae,. Bagaimana kau bisa tau?”
“papan namamu hihi” balasnya tersenyum sumringah .
Semenjak itulah aku dan kyungsoo berteman baik, tidak jarang kami berangkat sekolah bersama karna kebetulan juga rumahku satu jalur dengan rumahnya.
Kyungsoo adalah lelaki yang baik, ia selalu membelaku saat murid yang lain menjauhiku, saat mereka meledekku dan menjajahku, kyungsoo selalu berpihak padaku, tak jarang ia melindungiku, sama seperti beberapa waktu yang lalu.

“hye shin-a, aku pergi beli minum dulu, kamu jangan kemana-mana yah” kyungsoo berjalan pelan meninggalkanku.
Beberapa saat setelah kyungsoo pergi, banyak siswi yang mengerumuniku, wajah mereka terlihat sangat marah. Aku tak tau pasti alasannya, namun seringkali ku dengar bahwa kyungsoo adalah keturuan orang kaya dan banyak di sukai oleh siswi tingkat atas, maksudku para pewaris saham. Mungkin mereka tak suka karna di sekolah ini kyungsoo hanya bermain denganku, dengan seorang yang tak selevel dengannya.
“yaa,. Lusuuh, jangan mentang-mentang kyungsoo selalu berpihak padamu lalu kamu tak mau lagi melaksanakan perintah kami”
“aah,.” Cetusku saat seorang yeoja mendorong kepalaku keras, yeoja itu lalu menarik rambutku dan melemparku ke tengah-tengah kerumunan mereka,
Para siswa lain hanya tertawa melihatku di perlakukan seperti itu, mereka terlihat senang dan bahagia atas penderitaan yang aku rasakan .
Almamater yang aku kenakan dengan sesaat langsung berwarna putih. Mereka melemparkan tepung ke arahku, aku hanya bisa pasrah sambil menutup mataku. Cukup hanya telingaku yang mendengar gejolak tawa mereka, aku tak mau melihatnya sama sekali.
Tiba-tiba saja ku rasakan ada yang berbeda, aku merasa hangat, dan semua berubah menjadi semakin gelap. Ada seseorang di depanku dan aku sangat tau ia sedang memelukku erat, menyembunyikan kepalku di dada kirinya.
“kyungsoo-ya” ucapku pelan.
“gwaenchana,.tetap saja seperti ini” balasnya lalu memelukku lebih erat.
Terdengar sorak sorai para murid tak henti-hentinya, dan semua itu terhenti karna seseorang telah memesuki kelas kami.
“kyungsoo,. Hye shin cepat bersihkan pakaian kalian” perintah ibu park. Dan kamipun berlalu meninggalkan kelas.
.
.
.
“yaa,.., apa yang kau lakukan bodoh? Kenapa kau diam saja di perlakukan seperti itu?” bentak kyungsoo saat kita seudah berada jauh dari sekolah.
Aku hanya bisa menundukkan kepala sembari meneteskan air mata.
“jangan mengis, itu hanya akan membuatmu semakin jelek” balas kyung soo sambil mengangkat daguku pelan.
“lalu bagaimana denganmu?” kenapa kau jadi ikut-ikutan bodoh sepertiku?” timpalku dengan air mata bercucuran
“itu,. Aku hanya,.”
“lihat,. Bahkan kau lebih parah, almamaterku hanya berwana putih karna tepung, sedangkan kau? Almamatermu basah dengan telur” ucapku memarahinya.
“hye shin-a,. “ balas kyungsoo sabil memegang kedua lenganku. “aku hanya ingin melindungimu” lanjutnya dengan suara rendah.
“jangan melindungku lagi, jika itu hanya akan membuatmu terluka”  air mataku sudah tak bisa tertahankan lagi dan bercucuran dengan derasnya.
“hye shin-a,.jangan menangis seperti itu.” Ucap kyungsoo lalu menarik badanku kepelukannya.
Disitulah aku menangis sejad-jadinya, tangisanku meledak di pelukan kyungsoo. Kurasakan ia mengelus kepalaku pelan. Sambil mengulangi kata “uljima” beberapa kali.
.

Busan, 14 februari 2011
Hari ini adalah hari yang special, hari kasih sayang yang sering di sebut dengan valetine day. Namun hari ini hujan turun dengan derasnya. Semalaman aku bergikir,”haruskah aku berikan kyungsoo sebuah coklat?” pertanyaan itu memenuhi fikiranku, dan akhirnya ku putuskan untuk membungkuskan coklat buatanku untuknya.
“bagaimana ini? Hujannya sangat deras?” ucapku sambil berkeliling di kamar mungilku, aku pandangan kotak merah dengan pita berwarna  pink yang terletak di atas meja.
“Drrt,,drrt,,drrtt,,.” Getaran hpku terdengar dan aku segera mengambilnya.

From: do kyung soo
“hye shin-a, bisakah kau keluar sebentar, aku ditaman sebelah rumahmu.”
To : do kyung soo
“apa yang kau lakukan di sana, sekarang hujan deras”

From: do kyung soo
“aku terluka parah, aku tak bisa menhubungi siapapun.

Mataku melotot membaca balasan dari kyungsoo, aku langsung berlari cepat menerobos hujan tanpa membawa payung, fikiranku bercampur aduk, tak ada hal positivepun yang bisa aku pikirkan, dalam benakku hanya ada kyungsoo dan ia sedang dalam bahaya.
Suara nafasku yang masih tersenggalpun tak bisa aku atur. Aku telah sampai di taman namun tak seorangpun yang aku temukan.

“kyungsoo-yaa,,” teriakku berulang kali, namun tak ada jawaban.
Tanpa sadar air mataku menetes bercampur dengan air hujan yang semakin deras,
“hye shin-a,.” suara itu terdengar pelan di belakangku.
Aku pun membalikkan badan dan kulihat kyungsoo berlari pelan lalu memelukku erat.
“yaa,, yaa,.. apa kau baik-baik saja?” tanyaku sedikit panik. Tak ada balasan dari kyungsoo
“kyungsoo-ya,.,” aku mulai mengeraskan suaraku dalam pelukannya.
Ia melepaskan pelukannya, menggenggam kedua lenganku dan menatapku tajam. Tiba-tiba saja bibir kyungsoo menyentuh bibirku pelan, ia menciumku dengan sangat lembut tanpa nafsu. Aku pun memejamkan mataku. Di bawah rintikan hujan kyungsoo menciumku untuk pertama kalinya.
Kyungsoo melepaskan ciumannya  dan kembali menatap tajam ke arahku.
“hye shin-a, saranghae,.”
Aku merasa begitu terkejut, jantungku tak hentinya berdegup keras. Semua terasa seperti mimpi. Dia kyungsoo leleaki yang aku sukai secra diam-diam ternyata menyukaiku. Aku tak tau lagi bagaimana harus menggambarkan kebahagiannku saat ini, tapi ini bukan mimpi, inilah kenyataan.
.
.
Kamipun berjalan menuju kerumahku sesaat setelah aku menyatakan bahwa aku juga menyukainya.
“yaa,.baboya,. kenapa kau cepat sekali berlari ke taman?” Tanya kyungsoo sambil menggenggam erat tanganku.
“aku hanya khawatir” balasku
“aigoo,.,” kyungsoo menjitak kepalaku pelan,”kau juga belum membaca pesanku selanjutnya.
“apa yang kau tuliskan?”
“aku bilang bahwa akulah yang akan kerumahmu, saat itu aku sedang dirumahku.aku hanya ingin bercanda” jelasnya dengan menatapku sedikt khawatir karna bibirku yang berubah warna menjadi ungu.
“gwenchanha, tapi lain kali jangan bercanda seperti itu” balasku dengan suara gemetar karna kedinginan.
“sudahlah,. Jangan bicara apa-apa lagi, aku hampir tak mengerti apa yang kau katakan” balasnya lalu merangkulku dengan erat.
Akupun menoleh ke arahnya pelan.
“diam saja, tetap seperti ini kalau kamu tak ingin mati kedinginan” balasnya lalu tersenyum tulus ke arahku.
.
.
.
Hari itu, tepat di hari kasih sayang, kyungsoo menjadi pacarku, namun aku meminta padanya untuk merahasiakannya dari murid yang lain, karna aku tak mau kyungsoo terluka karna aku.
Setelah hari itu, hari-hariku yang dulu sangat menakutkan menjadi sangat indah. Bagaimana tidak, kyungsoo selalu ada di sampingku kapanpun itu, kami sering belajarbersama, membantu ahjumma di warung, dan kadang kyungsoo mengajarkanku bermain piano dirumahnya. Ia juga sering menyanyikan beberapa lagu untukku, suaranya sungguh merdu,.

2 tahun pun berlalu,kami menjalani hari-hari yang sungguh bahagia. Dan sekarang kami sudah tidak di sekolah menengah atas lagi, kami sudah bersekolah diuniversitas.
Namun universitasku dan kyungsoo berbeda, ia mengambil jurusan music karna memang mendiang ibunya adalah seorang pianist. Dan aku? Aku sekarang berada di jurusan design, karna memang aku suka menggambar dan seni lainnya.
Meski berada di universitas yang berbeda, namun keseharian kami tak berbeda sama sekali, kyungsoo selalu menemuiku saat jadwalnya kosong, dan membantuku bekerja sampingan.

Aku sungguh beruntung mendapatkan seorang seperti kyungsoo, lelaki yang rajin, sopan dan pintar. Dan aku sungguh mencintainya. 
“yaa,., apa ini?” ucapku saat kyungsoo memberikan sebuah kotak kecil berwarna merah.
“saengil chukhae hye shin-a,.” ucap kyungsoo sambil tersenyum tulus
“aigoo,., uri hye shin sekarang sudah besar” lanjutnya sambil emepuk-nepuk pelan pipiku.
Aku hanya tersenyum lalu membuka pelan bungkusan kotak itu.
“kyungsoo-ya,.” Ucapku pelan saat melihat isi kotak itu, “ini,.,”
“biarku pasangkan,.” Balasnya lalu mengambil benda itu, kemudia ia lingkarkan di leherku.
“gomawo”  balasku sambil tersenyum simpul.
Kyungsoo mencium keningku, lalu mengacak-acak rambutku
“yaaa,.. yaa,., hentikan kebiasaanmu ini” teriakku lalu mengejarnya.

14 februari 2014

Tak terasa 3 tahun telah berlalu, hari ini adalah 3rd anniversaryku dengan kyungsoo, setiap tahun kami selalu merayakannya bersama, entahitu pergi berkencan ke tempat-tmpat yang menurut kami menyenangkan, namun tidak dengan hari ini.
Kyungsoo tak membalas pesanku samasekali, biasanya ia selalu mengingat hari jadi kami, dan mengucapkannya tepat jam 00:00, tapi hari ini dia menghilang tanpa kabar. Sekarang jam dindingku menunjukkan pukul 20:00.
Aku mengumpat untuknya, tak sesekali aku meninju boneka bear pemberiannya.

“paboya, apa kau lupa hari apa ini? Lihat saja, aku tak akan memberimu maaf, sampai kau matipun akutak akan” ucapku bebrapa kali dan banyak kata yang lain yang aku tak bisa mengingatnya.
Dan akhirnya kuputuskan untuk mencarinya kerumahnya.malam itu gerimispun turun namun tak begitu deras. Aku berpamitan kepada ahjumma danmengambil payungku di samping lemari.

Aku berjalan menyusuri jalanan yang begitu ramai, kulihat para remaja yang sedang berduaan di beberapa café dengan kaca transparan.
Saat melalui perempatan yang lumayan dekat dengan rumah kyungsoo kulihat keramaian di sana, kuputuskan untuk memastikan apa yang terjadi, namun nihil, aku tak bisa menerobos kerumunan. Pastinya yang aku tau telah terjadi tabrak lari. Sungguh malang korban itu kudengar polisi bingung harus menghubungi siapa.

Aku melanjutkan perjalananku dan akhirnya akupun tiba di rumah kyungsoo. Ku hela nafsku dalam bersiap-siap untuk memarahinya. Bebrapa kali bel berbunyi, tapi tak ada jawaban dari dalam. Dan ternyata pintupun tak terkunci.
Aku memberanikan diri masuk, dan betapa terkejutnya aku saat melihat ruang tamu itu penuh dengan balon-balon berwarna pink, pita-pita merah yang menghiasinya dan tulisan “HAPPY ANNIVERSRY” terpampang si tembok,. Ku arahkan mataku ke atas meja, terlihat kue dua tingkat di atasnya, dengan hiasan boneka lelaki dan perempuan yang aku yakini adalah kyungsoo dan aku. Namun tak ada satupun liin yang menghiasinya. Aku pun tersenyum geli melihat semua ini. Aku berencana untuk pura-pura marah dan tak mengetahuinya.

Akupun keluar dari rumah kyungsoo dan menunggu telpon darinya, dalam hati aku berkata akan mengerjainya balik, karna tidak menghubungiku.dan tiba-tiba saja handphoneku berbunyi. Sesuai dengan dugaanku nama kyungsoopun muncul di screen hpku.
“yeoboseyo” ucapku dengan nada datar.
“hye shin-ssi?” terdengar suara aneh dari handphone itu
“ne, siapakah ini?” balasku ragu.
“kami dari kepolisian busan, apa pemilik hanphone ini keluarga anda?”
“ne, benar, apa terjadi sesuatu,.?”

Aku berlari cepat menerobos gerimis yang tak kunjung reda. Dalam hatiku hanya memanggil nama kyungsoo berulang kali. Air mataku tak berhenti menetes dan akhirnya kaupun tiba di lokasi yang di instruksikan polisi itu.
Kakiku lemas seketika saat melihat tubuh kyungsoo yang terbujur kaku dengan berlumuran darah. Kyungsoo adalah korban tabrak lari yang sempat kuhampiri tadi.

Ku pegang wajahnya yang sedikit memar dan basah karna darah, ku perhatikan lagi dan lagi, semuanya terasa seperti mimpi. Saat aku hendak menggenggam tangannya kudapatkan 3 buah lilin yang di pegangnya erat. Tangisanku sudah tak tertahankan dan meledak tanpa ku sadari.
“KYUNG SOO-YAAAA,.,., “

14 Februari 2015
Kupandang langit malam sendiri, hari ini tepat satu tahun kepergian kyungsoo, satu-satunya lelaki yang aku cintai.kupandang jariku yang dilingkari sebuah cincin bermata bunga. Cincin yang di siapkan kyungsoo untuk melamarku. Malam itu ku dapatkan cincin ini di kantong jas hitamnya. Dan di handphonenya ku dapatkan video yang ia buat, ia terlihat sungguh lucu dengan beberapa kali pengulangan pada videonya.
“maukah kau menikah denganku” ungkapnya pada video itu. Mungkin malam itu ia ingin meperlihatkannya padaku, tapi takdir berkata lain. Kyungsoo sudah berada ditempat yang jauh dengan ku.
Namun tetap saja aku akan selalu an selalu mencintainya. Mencintai lelaki yang menerimaku apa adanya. Menemaniku kapanpun dan selalu menghiburku. Lelaki yang rela kotor karnaku, lelaki yang selalu memberikan senyumannya padaku, lelaki yang selalu menghapus air mataku. Dialah satu-satunya yang aku cintai. “DO KYUNG SOO”

-end-

NB: mian kalo gaje -.- "