Rabu, 25 Maret 2015

MAKALAH FARMAKOLOGI SENYAWA STEVIOSIDA

BAB I
PENDAHULUAN
       I.            Latar belakang

Dewasa ini, Industri makanan, minuman, dan suplemen sering menggunakan pemanis sebagai penambah cita rasa pada produknya. Bahan pemanis alami yang biasa digunakan adalah gula sukrosa atau gula tebu. Namun gula tersebut memiliki beberapa kelemahan yaitu memiliki nilai kalori tinggi yang dapat menyebabkan kegemukan dan diabetes. Salah satu alternatif pemanis alami yang memiliki tingkat kemanisan yang tinggi, rendah kalori dan tidak bersifat karsinogenik adalah gula stevia dari daun tanaman stevia. Gula stevia dapat diperoleh secara ekstraksi dari daun stevia menggunakan metanol, etanol, atau spiritus. Pelarut ini dikhawatirkan masih tersisa pada produk. Untuk itu dicari pelarut polar yang lebih aman.
Pemurnian gula stevia umumnya dilakukan menggunakan proses pertukaran ion, kromatografi, fixed-bed reaktor menggunakan zeolite atau adsorben (Mantovaneli et al., 2004). Sebelum pemurnian dilakukan, penghilangan ion perlu dilakukan menggunakan pertukaran ion (Giovanetto, 1990). Proses tersebut cukup kompleks dan menggunakan banyak bahan kimia dan menghasilkan residu, sehingga perlu dilakukan modifikasi proses yang dapat mengurangi penggunaan bahan kimia dan residu. Proses membran filtrasi dapat memisahkan kotoran bukan gula dari larutan stevia tanpa menggunakan bahan kimia. Penggunaan umpan aliran diharapkan akan menekan efek fouling dan polarisasi konsentrasi sehingga dapat meningkatkan fluksi.
Pada penelitian ini pemurnian ekstrak daun stevia menggunakan ultrafiltrasi aliran silang.        Parameter tekanan transmembran dan laju alir terbaik diamati untuk mendapatkan larutan stevia dengan fluksi dan tingkat kejernihan tertinggi serta kehilangan (loss) steviosida terendah.

    II.            Rumusan masalah
1.      Apakah definisi senyawa steviosida?
2.      Bagaimanakah persiapan bahan baku dalam proses ultafiltrasi daun stevia?
3.      Bagaimana  karakteristik larutan steviosida hasil ultrafiltrasi?
 III.            Tujuan
1.      Untuk mengetahui deskripsi senyawa steviosida.
2.      Untuk mengetahui persiapan bahan baku dalam proses ultafiltrasi daun stevia.
3.      Untuk mengetahui karakteristik larutan steviosida hasil ultrafiltrasi.





BAB II
PEMBAHASAN
       I.            Senyawa Steviosida

Senyawa steviosida merupakan pemanis alami non kariogenik  dapat di temunakan pada tanaman stevia rebaudiana. Steviosida memiliki rasamanis 300-400 kali dari sukrosa.  Senyawa steviosida terdapat pada tanaman stevia, biasanya senyawa tersebut terdapat pada daunnya. Kandungan fitokimia daun stevia terbesar adalah glikosida, steroid dan tannin. Cramer dan Ikan menyatakan bahwa daun tanaman stevia rebaudiana mengandung campuran dari diterpen, triterpen, tanin, stigmasterol, minyak yang mudah menguap dan delapan senyawa manis diterpen glikosida. Delapan glikosida diterpen yang menyebabkan daun tersebut terasa manis, yaitu steviosida, steviolbiosida, rebaudiosida A – E dan dulkosida A. Selain itu juga stevia mengandung protein, karbohidrat, fosfor, besi, kalsium, potasium, sodium, flavonoid, zinc (Seng), vitamin C dan vitamin A.

    II.            Persiapan bahan baku untuk proses ultraviltrasi daun stevia rebaudiana adalah sebagai berikut.

Pengeringan Daun Stevia
Pengeringan stevia bertujuan untuk menurunkan kadar air, sehingga mikroorganisme, kapang serta enzim tidak berkembang. Proses pengeringan berlangsung cepat seiring dengan meningkatnya suhu pengeringan. Daun stevia yang masih basa  dikeringkan pada suhu 60  hingga mencapai kadar maksimum 10%. Pada pengeringan dengan ketiga suhu tersebut di dapatkan kadar kurang dari 10%. Kadar air terendah yang dicapai pada pengeringan 60  sebesar 5,5% diperoleh pada jam ke- 3,5. Sedangkan untuk pengeringan pada suhu 80 dan 100 diperoleh kadar 3,13 dan 7,34% dalam waktu 2,5 dan 2 jam.  semakin rendah kadar air daun stevia menunjukkan daya simpan dan kerusakan akibat aktifitas serangga, jamur, dan enzim sem akin kecil.
Namun, karna perbedaan suhu juga mengakibatkan perbedaan warna daun, suhu yang dipilih adalah suhu 60 karna warna daun masih hijau sedangkan pengeringan di atas suhu 60  menyebabkan warna daun merah kecoklatan yang di sebabkan oleh terjadinya reaksi milliard, yaitu reaksi yang terjadi antara gula preduksi dan asam amino atau kemungkinan lainnya adalah terbentuknya senyawa pheophytin akibat reaksi antara klorofil dengan semua asam yang menguap pada waktu proses pengeringan.
            Ekstraksi Daun Stevia
Ekstraksi stevia dilakukan menggunakan air yang bersifat polar seperti senyawa glikosida. Pada fase ini, gula molekul yang lebih besar serta protein akan terhidrolisis. Filtrat yang diperoleh berwarna coklat kemerahan. Warna ini diperkirakan berasal dari senyawa bukan gula yang terkandung pada daun stevia seperti klorofil, alkaloid, tanin, steroid, flavonoid dan makromolekul yang larut dalam air.
            Table Fitokimia Daun Stevia
Fitokimia
Hasil pengujian
(kualitatif)
Alkaloid
+++
Saponin
+
Tannin
++++
Flavonoid
+
Triterpenoid
-
Steroid
++++
fenolik
+
glikosida
++++
            Keterangan :
            -           = negative
+           = positive lemah
++ +    = positive kuat
++++   = positive kuat sekali
Hasil fitokimia daun stevia di atas (Tabel 1) menunjukkan kandungan glikosida yang positif kuat sekali, hal ini mengindikasikan bahwa daun stevia yang di gunakan dalam penelitian ini memiliki tingkat kemanisan yang tinggi. Pada penelitian ini juga dapat diketahui bahwa konsentrasi steviosida dan kadar gula tertinggi diperoleh pada suhu ekstraksi 100  dan suhu pengeringan 60  masing-masing sebesar 8,9 g/L dan 2,48 g/L.
Pemurnian larutan stevia
Fluksi air larutan stevia mulai konstan tercapai saat menit ke-10 pada kisaran fluksi 225 L/m2, begitu juga dengan kondisi tunak larutan stevia di capai pada waktu yang sama, yakni pada kisaran 25,50 L/m2
Pengaruh variabel oprasi terhadap fluksi
Fluksi aliran stevia dipengaruhi oleh tekanan transmembran, konsentrasi umpan dan kecepatan alir. Semakin tinggi tekanan transmembran dan kecepatan alir  maka fluksi yang dihasilkan semakin meningkat. Sedangkan semakin tinggi konsentrasi umpan maka fluksi semakin rendah.
Widoretno (2005) menyatakan bahwa semakin tinggi konsentrasi dalam umpan dapat meningkatkan viskositas pada permukaan membran sehingga dapat mengurangi daya difusi larutan melewati membrane Nilai fluksi tertinggi diperoleh pada konsentrasi umpan 20,4 g/L, tekanan 1,87 bar dan kecepatan alir 0,02 m/detik sebesar 60,00 L/m2.jam. Namun pada titik kecepatan alir 0,011 m/detik dan 0,02 m/detik pada konsentrasi umpan 0,02 m/detik dan tekanan 1,61 bar nilai fluksi cenderungan konstan.
Semakin tinggi konsentrasi umpan, semakin banyak pula partikel terlarut yang dapat menghalangi laju difusi larutan ke membran sehingga produk yang diinginkan sulit lolos melewati membran. Molekul gula yang tertahan oleh membran dapat disebabkan karena telah terjadi polarisasi konsentrasi sehingga molekul pemanis stevia sulit untuk lolos melewati membran. Polarisasi konsentrasi adalah terbentuknya lapisan kedua (second layer) pada permukaan membran yang meningkatkan resistensi membran.
Hasil ini menunjukkan bahwa membran ultrafiltrasi masih kurang optimal untuk meloloskan pemanis stevia. Pada larutan umpan diduga masih terdapat partikel–partikel terlarut yang memiliki bobot molekul yang lebih besar sehingga telah terakumulasi di atas permukaan membrane.
 III.             Analisis Karakteristik Larutan Stevia
Karakteristik larutan steviosida dipengaruhi oleh konsentrasi steviosida pada larutan, tekanan dan kecepatan alir umpan. Pengaruh konsentrasi steviosida pada larutan, tekanan dan kecepatan alir. Semakin tinggi konsentrasi, tekanan dan kecepatan alir maka nilai pH akan semakin meningkat.
pH larutan stevia setelah filtrasi tidak berubah secara signifikan yaitu berkisar antara 5,35 – 5,79. pemanis stevia tidak akan berubah jika dipanaskan pada suhu 100oC selama 1 jam dan stabil pada pH 3 – pH 9. Hasil pH ini dikarenakan tidak adanya perlakuan kimiawi selama proses filtrasi.
Konsentrasi steviosida setelah difiltrasi dengan membran mengalami penurunan pada konsentrasi 20,4 g/L sebesar 37%-62%, sedangkan konsentrasi 28,7 penurunannya sebesar 65%–73%. Steviosida juga dapat tertahan oleh membran bersama partikel besar lainnya, walaupun memiliki ukuran lebih kecil dari pori membran. Penggunaan tekanan dan laju alir yang besar dapat meningkatkan steviosida yang lolos melewati membran.
Kadar gula total pada tiap tekanan menunjukkan kecenderungan naik namun jumlah yang dihasilkan sedikit dibandingkan dengan steviosida. Hal tersebut menunjukkan bahwa kemanisan larutan stevia tidak ditentukan oleh kandungan gulanya, tetapi lebih ditentukan oleh senyawa–senyawa pemanis yang ada di dalamnya (delapan glikosida diterpen).
Nilai kadar gula total tertinggi diperoleh pada konsentrasi 20,4 g/L sebesar 0,80 g/L. Pada kondisi kecepatan alir yang bervariasi menghasilkan kadar gula total yang fluktuatif sehingga tidak diketahui kecenderungannya. Namun kadar gula total yang menurun menunjukkan bahwa gula selain gula stevia ada yang tertahan dipermukaan membran.
Persen kejernihan (%T) pada larutan ekstrak daun stevia menunjukkan bahwa membran ultrafiltrasi mampu memisahkan pengotor-pengotor yang menyebabkan warna dari hasil ekstrak daun stevia. Semakin tinggi persen kejernihan (%T), maka semakin banyak kotoran-kotoran yang tersaring oleh membran. Hal ini tampak pada semakin besar % kejernihan maka % kadar abu semakin rendah.
semakin tinggi tekanan maka persen kejernihan pada permeat semakin tinggi. Persen kejernihan meningkat sebesar 64% pada tekanan 1,87 bar. Sedangkan semakin tinggi kecepatan alir, maka persen kejernihan semakin rendah. Peningkatan persen kejernihan tampak pada kecepatan alir rendah (0,0029 m/detik) sebesar 60%.
Larutan ekstrak daun stevia sebelum difiltrasi memiliki kadar abu yang tinggi yaitu sebesar (0,073%). Semakin besar tekanan dan kecepatan alir umpan yang diberikan kadar abu yang dihasilkan semakin menurun. pada kecepatan alir yang rendah, proses terakumulasinya abu pada permukaan membran semakin cepat sehingga dapat menyumbat pori-pori membran. Namun secara keseluruhan dapat diketahui bahwa pengotor pada larutan ekstrak daun stevia dapat difiltrasi dengan ultrafiltrasi aliran silang sehingga larutan stevia menjadi lebih jerni







BAB III
PENUTUP
       I.            Kesimpulan

Ultrafiltrasi dapat digunakan untuk pemurnian ekstrak Stevia. Penggunaan membran PES (Ukuran pori 20 kDa) serta laju alir silang 0,02 m/detik dan tekanan transmembran 1,87 bar menghasilkan fluksi tertinggi yaitu 60 L/m2.jam, dan tingkat rejeksi (loss) gula steviosida terendah yaitu 36%. Pada kondisi ini diperoleh peningkatan kejernihan larutan tertinggi yaitu sebesar 64% dan pengurangan kadar abu 62%.

    II.            Saran
Untuk memperbaiki proses dalam mengurangi kehilangan gula steviosida maka perlu dilakukan penjernihan gula stevia menggunakan ukuran membran lebih besar dari 20 kDa, mengingat berat molekul steviosida sebesar 804.90 Da.









DAFTAR PUSTAKA
Isdianti F dan Erliza N. 2010. Ultrafiltrasi aliran silang untuk pemurnian gula stevia.  
             Bogor : institut partaninan bogor
Anonim. 2004. Ultrafiltration – Filtration Overview.www.kochmembran.com.
              [7 Februari 2006].
Atmawinata O dan Pudjosunarjo RS. 1986. Perubahan Kadar Steviosida dalam Daun Stevia Selama Pengolahan. Menara Perkebunan 54 (3): 64 – 67.
Cheryan M. 1998. Ultrafiltration and Mirofiltration. Lancaster, Pennsylvania:
               Technomic Publ. Co. Inc
Widoretno. 2005. Kajian Proses Pemurnian dan Pemekatan Larutan Raw Sugar Dengan
               Menggunakan Teknologi Membran. [Tesis]. Bogor: Institut Pertanian Bogor


Tidak ada komentar:

Posting Komentar