Tittle
: love day
Author :
Nisa Amila Rodhiya
Cast
: Do Kyung Soo
Lee hye sin
Genre :
sad romance
Request
by : ratih dewi (geyra)
HAPPY
AND SAD READING ALL ^^
“sehelai
daun sakura yang jatuh tepat diatas telapak tanganku menyadarkanku bahwa aku
berada pada musim yang berbeda.
Kucoba
menutup mata , namun bayangmu selalu hadir di benakku bahkan telah menggerogoti
seluuh sarafku.
Kurasakan
dingin yang sangat menerpa kulit wajahku tepat saat ku tengadahkan kepalaku
pelan. Salju pertamapun turun, tak ku sangka semua telah berlalu , namun tetap
saja di hatiku tak ada yang berubah.
Cintaku
padamu bagai bunga edelwise yang tak pernah mati, bunga yang melambangkan
keabadian, yeaah,. Keabadian cintaku yang telah kau bawa pergi.”
Busan, 8
september 2010
Hujan
turun dengan derasnya, membasahi setiap payung yang menghadang ,kuperhatikan
jalanan yang basah sambil sesekali menggosok-gosokan tanganku, cuaca sungguh
tak bersahabat bagi setiap orang yang ingin pergi berlibur , tapi tidak
denganku, setiap hari teeasa biasa, tak ada yang special. Aku selalu sendiri.
Namaku
park hye sin, nama yang bagus bukan? Yeaah,. Nama itu di berikan oleh seorang
ibu panti asuhan yang selama ini mengasuhku sampai aku berumur 11 tahun, 5
tahun berikutnya aku tinggal bersama ahjumma pemilik warung ddobokki (kue
beras) di pinggir jalan, walaupun hidupnya begitu berkecukupan, namun ia tetap
mau membawaku bersamanya, mungkin dia juga tak tahan hidup sendirian.
.
.
.
“hye
sin-a” panggil ahjumma dari dapur.
“ne
eomma” aku pun memanggilnya dengan sebutan ibu satu bulan setelah ia
mengasuhku, aku ingat lidahku sangat kelu untuk memanggilnya seperti itu, namun
sekarang semua terasa biasa saja.
“ini,
makan yang banyak ya” ucapnya sambil menyodorkan rantangan nasi yang biasanya
aku bawa ke sekolah untuk sarapan. Semua itu untuk mengirit uang belanja.
Masakan ahjumma juga tidak kalah lezat dengan masakan di kantin sekolah.
.
.
.
Aku
mengayuh sepeda pinkku yang warnanya sudah mulai memudar, aku tak pernah
malu akan hal itu, walau tak ada satupun orang yang mau berteman denganku di
sekolah.wajar saja, aku sekolah di tempat yang di sebut bergengsi di kota ini,
seluruh isi sekolah adalah para pewaris saham, lalu bagaimana denganku? Aku
hanya mengandalkan otakku, program beasisiwalah yang membawaku masuk ke
lingkungan itu.
Aku
menghentikan ayuhan sepedaku melihat kerumunan orang banyak di pinggir jalan.
Banyak yang menggunakan pakaian berwarna hitam, dari situ bisa ditafsirkan
bahwa sedang ada perkubungan.
Aku
mengarahkan sepedaku mendekat, karna sungguh terdengar banyak tangis yang
membuatku menjadi penasaran.
“jogi
ahjummonie, siapakah yang meninggal dunia?” tanyaku pada seorang ahjumma yang
sedari tadi menyeka air matanya pelan,
“aigoo,.
Sungguh malang anak itu” balasnya dengan mata yang tertuju pada seorang lelaki
yang sedang menagis terisak di depan foto seorang paman dan bibi yang masih
terlihat muda.
“ayah
dan ibunya meninggalkannya terlalu cepat, sekarang dia hidup sebatang kara”
Entah
mengapa aku juga merasa sedih ,aku sangat tau apa yang dia rasakan, yaah,. Dia
pasti merasa sendiri sekarang sama sepertiku. Aku tak mengalihkan pandanganku
sekalipun, aku melihatnya sesekali memukul dadanya, terlihat sungguh sangat
sesak, air matanyapun tak henti bercucuran.
“ayah
dan ibunya sangat ramah, semuaorang di sini menyegani keluarga mereka, mereka
adalah orang kaya yang sangat rajin membantu” lanjut ahjumma itu sekedar
meluapkan apa yang ia rasakan,
Aku
menganggukkan kepala pelan, lalu berbalik meninggalkan kerumunan.
.
.
.
“yaa,.
Lusuh, cepat minggir, aku tak mau makan di sampingmu” ujar seorang gadis
bermbut pirang sambil seseklai mendorongku.
“lusuh”
itulah nama panggilanku, tak banyak yang mengetahui nama asliku, karna aku
sudah terbiasa dengan panggilan “lusuh” itu. Tak seorangpun yang menemaniku di
sekolah, mereka hanya datang padaku saat ada kebutuhan yang mendesak seperti
tugas dan lainnya, namun itupun dengan paksaan, tak ada kelembutan sedikitpun.
Aku hanya bisa tersenyum sambil mengatakan “gwaenchana” pada diriku sendiri.
3 hari
kemudian.
Hari ini
lumayan cerah, ku ayuh sepedaku perlahan untuk menikmati sedikit udara segar di
pagi hari. Tiba-tiba saja mataku tertuju pada seorang lelaki yang menggunakan
seragam sekolah yang sama denganku.lelaki itu hanya duduk terdiam dengan
pandangan kosong di bawah pohon.
Kuperhatikan
lagi,seperti sudah melihatnya, tapi akumasih memikirkan dimana aku bertemu
dengannya.
“aah,
benar dia lelaki di tempat berkubung” ujarku pelan. Aku pun mulai mendekatinya.
“annyeong,.”
Sapaku dengan suara rendah.
Ia langsung
mengarahkan pandangannya padaku, namun tak membalas sapaanku.
“apa
yang sedang kau lakukan di sini? Ayo pergi sekolah” ucapku memberanikan diri.
Ia
menatapku kembali sembari tersenyum.
“gwaenchanha,,.
Kau duluan saja” balasnya pelan
“ne,. ?”
suaraku, sedikit memastikan apa yang ia ucapkan
“aku
murid pindahan, tak apa jika aku terlambat” balasnya.
“aaah,.
Dia murid baru” batinku, tapi entah mengapa aku tak enak meninggalkannya
sendiri, ia terlihat merasa sangat sepi, bisa ku baca dari matanya, bahwa
ia tak kuat dengan apa yang ia alami.
Aku
membuka tasku pelan, ku ambil sebuah gelang rajut yang selalu ku taruh di
tasku.
“ini,.,
ini untukmu” ucapku sambil menyodorkan gelang itu.
“igo,.
Mohaeyo? “ tanyanya pelan
“gelang
ini bisa menemanimu saat kau merasa sepi, saat kau merasa tak ada orang lain di
sisimu.” Aku pun berbalik lalu mengayuh sepedaku kembali.
“hah,.
Biarlah” ucapku pada diriku sendiri, gelang itu memang sangat berarti untukku,
karna gelang itu pemberian dari ahjumma dip anti asuhan saat aku meninggalkannya.
Kata-kata yang ku ucapkan pada lelaki tadi sama persisi dengan kata yang di
ucapkan oleh ahjumma padaku. Yaah,. Gelang penghilang kesepian, kurasa dia
lebih membutuhkannya.
.
.
.
“silahkan
perkenalkan dirimu” ucap bu park, wali kelas kami ke pada seorang lelaki yang
sudah taka sing lagi di mataku. Yaah,. Lelaki di bawah pohon tadi.
“annyeonghaseyo,
do kyung soo irago.bangapda” ungkapnya lalu menundukkan kepala di depan kelas
sebagai tanda penghormatan.
Namanya
“DO KYUNG SOO” dan sekarang ia duduk di sebelahku, mungkin ia belum menyadari
keberadaanku, tapi ya sudahlah,. Mungkin dia juga akan menjauhiku seperti murid
yang lainnya.
“ya,.,
yaa,.,” suaranya setengah berteriak.
Aku tak
menolehkan kepalaku sedikitpun karna mungkin panggilan itu bukan untukku.
“yaa,.
Yaa,. Gelang rajut” panggilnya berulang kali
“gelang
rajut?, mungkinkah itu aku” batinku mulai menyadari, dan akhirnya aku menoleh
ke arahnya.
“ternyata
benar” ucapp kyung soo lalu tersenyum.
Kyungsoo
menatap tajam ke arahku, entah apa yang sedang ia perhatikan.
“lee hye
shin??” ucapnya sedikit bertanya.
“eottokhae,.
Bagaimana kau bisa tau?”
“papan
namamu hihi” balasnya tersenyum sumringah .
Semenjak
itulah aku dan kyungsoo berteman baik, tidak jarang kami berangkat sekolah
bersama karna kebetulan juga rumahku satu jalur dengan rumahnya.
Kyungsoo
adalah lelaki yang baik, ia selalu membelaku saat murid yang lain menjauhiku,
saat mereka meledekku dan menjajahku, kyungsoo selalu berpihak padaku, tak
jarang ia melindungiku, sama seperti beberapa waktu yang lalu.
“hye
shin-a, aku pergi beli minum dulu, kamu jangan kemana-mana yah” kyungsoo
berjalan pelan meninggalkanku.
Beberapa
saat setelah kyungsoo pergi, banyak siswi yang mengerumuniku, wajah mereka
terlihat sangat marah. Aku tak tau pasti alasannya, namun seringkali ku dengar
bahwa kyungsoo adalah keturuan orang kaya dan banyak di sukai oleh siswi
tingkat atas, maksudku para pewaris saham. Mungkin mereka tak suka karna di
sekolah ini kyungsoo hanya bermain denganku, dengan seorang yang tak selevel
dengannya.
“yaa,.
Lusuuh, jangan mentang-mentang kyungsoo selalu berpihak padamu lalu kamu tak
mau lagi melaksanakan perintah kami”
“aah,.”
Cetusku saat seorang yeoja mendorong kepalaku keras, yeoja itu lalu menarik
rambutku dan melemparku ke tengah-tengah kerumunan mereka,
Para
siswa lain hanya tertawa melihatku di perlakukan seperti itu, mereka terlihat
senang dan bahagia atas penderitaan yang aku rasakan .
Almamater
yang aku kenakan dengan sesaat langsung berwarna putih. Mereka melemparkan
tepung ke arahku, aku hanya bisa pasrah sambil menutup mataku. Cukup hanya
telingaku yang mendengar gejolak tawa mereka, aku tak mau melihatnya sama
sekali.
Tiba-tiba
saja ku rasakan ada yang berbeda, aku merasa hangat, dan semua berubah menjadi
semakin gelap. Ada seseorang di depanku dan aku sangat tau ia sedang memelukku
erat, menyembunyikan kepalku di dada kirinya.
“kyungsoo-ya”
ucapku pelan.
“gwaenchana,.tetap
saja seperti ini” balasnya lalu memelukku lebih erat.
Terdengar
sorak sorai para murid tak henti-hentinya, dan semua itu terhenti karna
seseorang telah memesuki kelas kami.
“kyungsoo,.
Hye shin cepat bersihkan pakaian kalian” perintah ibu park. Dan kamipun berlalu
meninggalkan kelas.
.
.
.
“yaa,..,
apa yang kau lakukan bodoh? Kenapa kau diam saja di perlakukan seperti itu?”
bentak kyungsoo saat kita seudah berada jauh dari sekolah.
Aku
hanya bisa menundukkan kepala sembari meneteskan air mata.
“jangan
mengis, itu hanya akan membuatmu semakin jelek” balas kyung soo sambil
mengangkat daguku pelan.
“lalu
bagaimana denganmu?” kenapa kau jadi ikut-ikutan bodoh sepertiku?” timpalku
dengan air mata bercucuran
“itu,.
Aku hanya,.”
“lihat,.
Bahkan kau lebih parah, almamaterku hanya berwana putih karna tepung, sedangkan
kau? Almamatermu basah dengan telur” ucapku memarahinya.
“hye
shin-a,. “ balas kyungsoo sabil memegang kedua lenganku. “aku hanya ingin
melindungimu” lanjutnya dengan suara rendah.
“jangan
melindungku lagi, jika itu hanya akan membuatmu terluka” air mataku sudah
tak bisa tertahankan lagi dan bercucuran dengan derasnya.
“hye
shin-a,.jangan menangis seperti itu.” Ucap kyungsoo lalu menarik badanku
kepelukannya.
Disitulah
aku menangis sejad-jadinya, tangisanku meledak di pelukan kyungsoo. Kurasakan
ia mengelus kepalaku pelan. Sambil mengulangi kata “uljima” beberapa kali.
.
Busan,
14 februari 2011
Hari ini
adalah hari yang special, hari kasih sayang yang sering di sebut dengan
valetine day. Namun hari ini hujan turun dengan derasnya. Semalaman aku
bergikir,”haruskah aku berikan kyungsoo sebuah coklat?” pertanyaan itu memenuhi
fikiranku, dan akhirnya ku putuskan untuk membungkuskan coklat buatanku
untuknya.
“bagaimana
ini? Hujannya sangat deras?” ucapku sambil berkeliling di kamar mungilku, aku
pandangan kotak merah dengan pita berwarna pink yang terletak di atas
meja.
“Drrt,,drrt,,drrtt,,.”
Getaran hpku terdengar dan aku segera mengambilnya.
From: do
kyung soo
“hye
shin-a, bisakah kau keluar sebentar, aku ditaman sebelah rumahmu.”
To : do
kyung soo
“apa
yang kau lakukan di sana, sekarang hujan deras”
From: do
kyung soo
“aku
terluka parah, aku tak bisa menhubungi siapapun.
Mataku
melotot membaca balasan dari kyungsoo, aku langsung berlari cepat menerobos
hujan tanpa membawa payung, fikiranku bercampur aduk, tak ada hal positivepun
yang bisa aku pikirkan, dalam benakku hanya ada kyungsoo dan ia sedang dalam
bahaya.
Suara
nafasku yang masih tersenggalpun tak bisa aku atur. Aku telah sampai di taman
namun tak seorangpun yang aku temukan.
“kyungsoo-yaa,,”
teriakku berulang kali, namun tak ada jawaban.
Tanpa
sadar air mataku menetes bercampur dengan air hujan yang semakin deras,
“hye
shin-a,.” suara itu terdengar pelan di belakangku.
Aku pun
membalikkan badan dan kulihat kyungsoo berlari pelan lalu memelukku erat.
“yaa,,
yaa,.. apa kau baik-baik saja?” tanyaku sedikit panik. Tak ada balasan dari
kyungsoo
“kyungsoo-ya,.,”
aku mulai mengeraskan suaraku dalam pelukannya.
Ia
melepaskan pelukannya, menggenggam kedua lenganku dan menatapku tajam.
Tiba-tiba saja bibir kyungsoo menyentuh bibirku pelan, ia menciumku dengan sangat
lembut tanpa nafsu. Aku pun memejamkan mataku. Di bawah rintikan hujan kyungsoo
menciumku untuk pertama kalinya.
Kyungsoo
melepaskan ciumannya dan kembali menatap tajam ke arahku.
“hye
shin-a, saranghae,.”
Aku
merasa begitu terkejut, jantungku tak hentinya berdegup keras. Semua terasa
seperti mimpi. Dia kyungsoo leleaki yang aku sukai secra diam-diam ternyata
menyukaiku. Aku tak tau lagi bagaimana harus menggambarkan kebahagiannku saat
ini, tapi ini bukan mimpi, inilah kenyataan.
.
.
Kamipun
berjalan menuju kerumahku sesaat setelah aku menyatakan bahwa aku juga
menyukainya.
“yaa,.baboya,.
kenapa kau cepat sekali berlari ke taman?” Tanya kyungsoo sambil menggenggam
erat tanganku.
“aku
hanya khawatir” balasku
“aigoo,.,”
kyungsoo menjitak kepalaku pelan,”kau juga belum membaca pesanku selanjutnya.
“apa
yang kau tuliskan?”
“aku
bilang bahwa akulah yang akan kerumahmu, saat itu aku sedang dirumahku.aku
hanya ingin bercanda” jelasnya dengan menatapku sedikt khawatir karna bibirku
yang berubah warna menjadi ungu.
“gwenchanha,
tapi lain kali jangan bercanda seperti itu” balasku dengan suara gemetar karna
kedinginan.
“sudahlah,.
Jangan bicara apa-apa lagi, aku hampir tak mengerti apa yang kau katakan”
balasnya lalu merangkulku dengan erat.
Akupun
menoleh ke arahnya pelan.
“diam
saja, tetap seperti ini kalau kamu tak ingin mati kedinginan” balasnya lalu
tersenyum tulus ke arahku.
.
.
.
Hari
itu, tepat di hari kasih sayang, kyungsoo menjadi pacarku, namun aku meminta
padanya untuk merahasiakannya dari murid yang lain, karna aku tak mau kyungsoo
terluka karna aku.
Setelah
hari itu, hari-hariku yang dulu sangat menakutkan menjadi sangat indah.
Bagaimana tidak, kyungsoo selalu ada di sampingku kapanpun itu, kami sering
belajarbersama, membantu ahjumma di warung, dan kadang kyungsoo mengajarkanku
bermain piano dirumahnya. Ia juga sering menyanyikan beberapa lagu untukku,
suaranya sungguh merdu,.
2 tahun
pun berlalu,kami menjalani hari-hari yang sungguh bahagia. Dan sekarang kami
sudah tidak di sekolah menengah atas lagi, kami sudah bersekolah diuniversitas.
Namun
universitasku dan kyungsoo berbeda, ia mengambil jurusan music karna memang
mendiang ibunya adalah seorang pianist. Dan aku? Aku sekarang berada di jurusan
design, karna memang aku suka menggambar dan seni lainnya.
Meski
berada di universitas yang berbeda, namun keseharian kami tak berbeda sama
sekali, kyungsoo selalu menemuiku saat jadwalnya kosong, dan membantuku bekerja
sampingan.
Aku
sungguh beruntung mendapatkan seorang seperti kyungsoo, lelaki yang rajin,
sopan dan pintar. Dan aku sungguh mencintainya.
“yaa,.,
apa ini?” ucapku saat kyungsoo memberikan sebuah kotak kecil berwarna merah.
“saengil
chukhae hye shin-a,.” ucap kyungsoo sambil tersenyum tulus
“aigoo,.,
uri hye shin sekarang sudah besar” lanjutnya sambil emepuk-nepuk pelan pipiku.
Aku
hanya tersenyum lalu membuka pelan bungkusan kotak itu.
“kyungsoo-ya,.”
Ucapku pelan saat melihat isi kotak itu, “ini,.,”
“biarku
pasangkan,.” Balasnya lalu mengambil benda itu, kemudia ia lingkarkan di
leherku.
“gomawo”
balasku sambil tersenyum simpul.
Kyungsoo
mencium keningku, lalu mengacak-acak rambutku
“yaaa,..
yaa,., hentikan kebiasaanmu ini” teriakku lalu mengejarnya.
14
februari 2014
Tak
terasa 3 tahun telah berlalu, hari ini adalah 3rd anniversaryku dengan
kyungsoo, setiap tahun kami selalu merayakannya bersama, entahitu pergi
berkencan ke tempat-tmpat yang menurut kami menyenangkan, namun tidak dengan
hari ini.
Kyungsoo
tak membalas pesanku samasekali, biasanya ia selalu mengingat hari jadi kami,
dan mengucapkannya tepat jam 00:00, tapi hari ini dia menghilang tanpa kabar.
Sekarang jam dindingku menunjukkan pukul 20:00.
Aku
mengumpat untuknya, tak sesekali aku meninju boneka bear pemberiannya.
“paboya,
apa kau lupa hari apa ini? Lihat saja, aku tak akan memberimu maaf, sampai kau
matipun akutak akan” ucapku bebrapa kali dan banyak kata yang lain yang aku tak
bisa mengingatnya.
Dan
akhirnya kuputuskan untuk mencarinya kerumahnya.malam itu gerimispun turun
namun tak begitu deras. Aku berpamitan kepada ahjumma danmengambil payungku di
samping lemari.
Aku
berjalan menyusuri jalanan yang begitu ramai, kulihat para remaja yang sedang
berduaan di beberapa café dengan kaca transparan.
Saat
melalui perempatan yang lumayan dekat dengan rumah kyungsoo kulihat keramaian
di sana, kuputuskan untuk memastikan apa yang terjadi, namun nihil, aku tak
bisa menerobos kerumunan. Pastinya yang aku tau telah terjadi tabrak lari.
Sungguh malang korban itu kudengar polisi bingung harus menghubungi siapa.
Aku
melanjutkan perjalananku dan akhirnya akupun tiba di rumah kyungsoo. Ku hela
nafsku dalam bersiap-siap untuk memarahinya. Bebrapa kali bel berbunyi, tapi
tak ada jawaban dari dalam. Dan ternyata pintupun tak terkunci.
Aku
memberanikan diri masuk, dan betapa terkejutnya aku saat melihat ruang tamu itu
penuh dengan balon-balon berwarna pink, pita-pita merah yang menghiasinya dan
tulisan “HAPPY ANNIVERSRY” terpampang si tembok,. Ku arahkan mataku ke atas
meja, terlihat kue dua tingkat di atasnya, dengan hiasan boneka lelaki dan perempuan
yang aku yakini adalah kyungsoo dan aku. Namun tak ada satupun liin yang
menghiasinya. Aku pun tersenyum geli melihat semua ini. Aku berencana untuk
pura-pura marah dan tak mengetahuinya.
Akupun
keluar dari rumah kyungsoo dan menunggu telpon darinya, dalam hati aku berkata
akan mengerjainya balik, karna tidak menghubungiku.dan tiba-tiba saja
handphoneku berbunyi. Sesuai dengan dugaanku nama kyungsoopun muncul di screen
hpku.
“yeoboseyo”
ucapku dengan nada datar.
“hye
shin-ssi?” terdengar suara aneh dari handphone itu
“ne,
siapakah ini?” balasku ragu.
“kami
dari kepolisian busan, apa pemilik hanphone ini keluarga anda?”
“ne,
benar, apa terjadi sesuatu,.?”
Aku
berlari cepat menerobos gerimis yang tak kunjung reda. Dalam hatiku hanya
memanggil nama kyungsoo berulang kali. Air mataku tak berhenti menetes dan
akhirnya kaupun tiba di lokasi yang di instruksikan polisi itu.
Kakiku
lemas seketika saat melihat tubuh kyungsoo yang terbujur kaku dengan berlumuran
darah. Kyungsoo adalah korban tabrak lari yang sempat kuhampiri tadi.
Ku
pegang wajahnya yang sedikit memar dan basah karna darah, ku perhatikan lagi
dan lagi, semuanya terasa seperti mimpi. Saat aku hendak menggenggam tangannya
kudapatkan 3 buah lilin yang di pegangnya erat. Tangisanku sudah tak tertahankan
dan meledak tanpa ku sadari.
“KYUNG
SOO-YAAAA,.,., “
14
Februari 2015
Kupandang
langit malam sendiri, hari ini tepat satu tahun kepergian kyungsoo,
satu-satunya lelaki yang aku cintai.kupandang jariku yang dilingkari sebuah
cincin bermata bunga. Cincin yang di siapkan kyungsoo untuk melamarku. Malam
itu ku dapatkan cincin ini di kantong jas hitamnya. Dan di handphonenya ku
dapatkan video yang ia buat, ia terlihat sungguh lucu dengan beberapa kali
pengulangan pada videonya.
“maukah
kau menikah denganku” ungkapnya pada video itu. Mungkin malam itu ia ingin
meperlihatkannya padaku, tapi takdir berkata lain. Kyungsoo sudah berada
ditempat yang jauh dengan ku.
Namun
tetap saja aku akan selalu an selalu mencintainya. Mencintai lelaki yang
menerimaku apa adanya. Menemaniku kapanpun dan selalu menghiburku. Lelaki yang
rela kotor karnaku, lelaki yang selalu memberikan senyumannya padaku, lelaki
yang selalu menghapus air mataku. Dialah satu-satunya yang aku cintai. “DO
KYUNG SOO”
-end-
NB: mian
kalo gaje -.- "

Tidak ada komentar:
Posting Komentar