Na neol neukkyeo
Part 2 “geu sarameun nuguya?”
“annyeonghaseyo chae jin imnida, lee chae jin” ucap
chae jin di depan para teman barunya. Mereka tampak biasa saja, seperti tak ada
seorangpun yang berbicara di depan, para murid lain sibuk dengan urusan
masing-masing.
“plaaaaaaaaaaaakk” suara bantingan buku di atas meja
guru terdengar keras.
“ibu mohon saat ada orang berbicara kalian harus
mendengarkan “ tegas bu park, wali kelas XII B.
“seongsangnim, bolehkah aku bertanya padanya” tanya seorang
gadi s yang sedang mengunyah permen karet di mulutnya.
“silhakan han na”
“yaa,.sin ibsaeng-a—murid baru, kenapa kau bisa masuk
di kelas kami?” lontar gadis berambut pirang itu dengan ketus.
“ne, museuniriya?—apa maksudmu?” jawab chae jin dengan
suara pelan.
“aaah, bisakah kau mencari tau dulu sebelum kau masuk
ke sekolah polpuler ini, termasuk ke kelas kami” cetusnya.
Suara gelakan tawa para siswa terdengar keras setelah
han na menghentikan pembicaranya. Chae jin tertunduk malu, ia bingung dengan
pertanyaan yang dilontarkan oleh gadis angkuh itu. *Dia benar, seharusnya aku
lebih banyak mencari tahu dulu tentang sekolah baruku batinnya.
“dari mana kau berasal dan apakah kau masuk ke sini
dengan uang?” sambut suara yang
terdengar sangat berat dari seorang laki-laki yang duduk di kursi belakang.
“pertanyaan seperti itulah yang dia maksud, kau
terlihat begitu bingung” lanjut lelaki itu menjelaskan.
“aania,” ucap chae jin dengan sedikit nada bercanda.
“aku sekolah di sini karna program beasiswa, mohon bimbingannya teman-teman”
lanjut chae jin sambil tersenyum seraya menundukkan badan.
Semua murid terlihat memandang satu sama lain, mereka
terlihat binngung, sebagian dari mereka berbisik satu dengan yang lain.
“yaaa,. Kenapa kau begitu,.” Belum sempat han na
melanjutkan perktannya bu guru park langsung memotong.
“baiklah,, waktu
tanya jawab sudah selesai, jika ingin menanyakan lebih banyak, lanjutkan
di waktu istirahat, chae jin-a duduklah di samping eun gi” perintah ibu park.
Jam istirahat.
“selamat datang chae jin-a,” ucap eun gi sambil
mengulurkan tangannya
“ne, gomawo eun gi-ya” jawab chae jin dan membalas
uluran tangan eun gi.
“masalah yang tadi, kau tak usah terlalu memikirkannya”
“Ne eun gi-ya, hajiman—tapi ,,.,siapakah gadis itu? Dia
terlihat kurang sopan.”
“dia han-na, lee han na. Dia memang seperti itu, “
“eun gi-ya, bisakah kau meberitahuku lebih banyak
tentang sekolah ini?”pinta chae jin.
“baiklah dengarkan dengan baik,. Perempuan yang tadi
bernama hanna, tak satu orangpun di sekolah ini yang tak mengenalnya, karna ia
adalah satu-satunya cucu keluarga Lee pemilik perusahaan VIC yang mendirikan
sekolah ini.dan yang menjadi kepala sekolah disini adalah nenek tirinya, tapi
ia begitu dekat dengan neneknya.”
“aah, pantas saja ia bersikap seperti itu padaku, terus
lanjutkan,.”
“oh iya, dan pria yang tadi menjelaskan padamu itu
adalah anak pengusaha kaya, pemilik salah satu resort termahal di jepang, han
na sangat menyukainya, tak sedikit para siswa yang iri dengan hubungan mereka,
karna mereka kaya, cantik dan tampan. Tapi kurasa ia tak menyukai han na.
“siapa nama pria itu?”
“aaah benar aku sampai lupa, namanya ryeo jun, kang
ryeo jun”
“nugu,.?” Tanya chae jin seperti sudah tak asing lagi dengan nama ini.
“kang ryeo jun ,apa kau mengenalnya,.???” Eun gi
membelalakkan mata melihat eksprese aneh chae jin setelah mendengar nama ryeo
jun.
“aah,hhh anii, namanya sama seperti orang yang aku
kenal, “
“ooh begitu, dan juga chae jin, jangan sekali-kali kau
berani mendekati ryeo jun, jika kau mendekatinya kau akan mendapat masalah
besar” jelas eun gi dengan tatapan yang menyermkan
“eun gi-ya, jangan melihatku seperti itu” balas chae
jin sambil memundurkan punggungnya ke belakang.
“hahaha, mianhae chae jin-a sudah membuatmu takut,
maksudku jika kamu dekat dengannya secara otomatis kamu akan bermasalah dengan
han na, gadis sombong itu”
“aah benarkah,.,??
“ne, bukan hanya itu, kurasa ryeo jun juga tak akan menghiraukanmu, dia
bukan laki-laki yang manis”
“Ne arasseo, aku juga tak ada niat untuk mendekatinya”
tangkas chae jin
“baiklah sekarang giliranku, aku ingin bertanya padamu”
“tentang apa ?”
“mungkin ini terlalu pribadi, tapi lama kelamaan aku
pasti akan tau bukan? Sebenarnya apa pekerjaan ibumu?”
“ibuku tidak bekerja apa-apa, ia sehari hari hanya
mengumpulkan kayu bakar di hutan dan menjualnya” jawab chae jin tegas
“jeongmalyo?, masih adakah kehidupan seperti itu di
dunia nyata?”
“hahaha, tentu saja masih dan aku sendiri yang
mengalaminya”
“mcmcmc, kemudian ayahmu?”
“ayahku,,, aku tak tau, ibuku bilang ia sudah bercerai
dengan ayahku saat aku baru berumur satu minggu, menyedihkan sekali bukan?”
“daeebaak, wanjaa daebaak,. Hidupmu seperti drama korea
saja chae jin” ujar eun gi berkomentar.
“benarkah? Hahahah kau ada-ada saja eun gi” tawa hae in
mendengar tanggapan teman barunya itu.
“tapi aku heran, kenapa kau begitu pintar sehingga bisa
mendapat beasiswa di sekolah kami, hmmm memang begitulah hidup, hidup harus
adil, karna itu maukah kamu membantuku dalam belajar?” pinta eun gi
“pasti,,.!! Selama aku bisa aku akan membantu” tanggap
chae jin sambil tersenyum
“aah batta,,. Aku hampir lupa sekarang ada pertandingan
basket di gedung olahraga” ter”teriak eun gi mengagetkan chae jin.
“bisakah kita tidak menonton, aku tidak mengerty basket
sama sekali” pinta chae jin
“andwaee, aku harus mendukung uri shi hoo dan teamnya”
“shi hoo, aaahh arasseo, apakah kau menyukainya? Atau
dia adalah pacarmu?”
“itu tidak penting sekarang,. Kajja nanti aku
ceritakan” balas eun gi sambil menarik tangan kanan chae jin.
SKIP,.,
Terdengar sorak sorai para siswa menyebut nama idola
masing-masing, tak sesekali chae jin menutup telinganya karna keributan yang
tak biasanya ia dengar. Eun gi menariknya ke barisan paling depan
“chae jin-a, itu park shi hoo,. “ tunjuk eun gi ke arah
seorang pria berbaju basket orange
“shi hoo-yaaaah hwaiiiiiing” teriaknya.
Chae jin merasa ada yang aneh engan kakinya, dan
ternyata benar baei kecil pengikat sepatunya hilang entah kemana, mungkin karna
faktor usia sepatu yang lumayan lama.
“jamkamaneyo eun gi-ya” chae jin meninggalkan eun gi
yang sedak asyik berteriak, ia menuruni satu tangga dan berjalan pelan sambil
menundukkan kepalanya, mencari besi kecil nan berharga itu. Sekarang ia tepat
berada di lantai dasar arena basket.
“kkeogiyo,. Bisakah kau melempar bolanya sebentar,.”
Terdengar suara laki-laki yang sedang berada di tengah lapangan basket.
“anii, biar aku saja yang ambil” sahut seorang pria
berambut pirang, dan terlihat berlari ke arah chae jin.
Skipp,.
chae jin memegang bola basket yang bergelindir ke
arahnya, dan menyerahkan pada seorang yang yang sedang berlari ke arahnya,.
“gomawo” ucap pria itu dengan senyum manis ,.,
Tidak ada komentar:
Posting Komentar